Hati-Hati Tenaga Medis



~ Remaja yang banyak tau tidak membuat mereka pergi ke UPK ~

Dalam suatu penelitian yang melibatkan 132 (insyaAllah, saya lupa. tapi sekitar 130-an atau 150-an) anak jalanan di Jakarta tentang kesehatan reproduksi didapatkan hasil bahwa mereka semua telah melakukan hubungan seksual layaknya pasangan suami istri dengan frekuensi yang bisa dianggap sering. Mereka juga melakukannya dengan orang yang berbeda sehingga tingkat kejadian penyakit kelamin dan seksual tinggi pada anak-anak jalanan ini. Alasan mereka melakukan hubungan seksual ini berbeda-beda. Ada yang karena faktor ekonomi, stres, dan lain sebagainya.

Mereka mengakui pernah terjadi sakit saat pipis, keluar nanah, dan berbagai gejala penyakit kelamin lainnya. Dan untuk mengobatinya mereka mengaku sering beli obat di warung dan toko obat (BUKAN APOTEK). Dan apabila gejala yang mereka rasakan sudah semakin parah barulah mereka datang ke klinik yang notabene klinik swasta (TIDAK KE PUSKESMAS ATAU RUMAH SAKIT UMUM). Ketika ditanya bahayanya penyakit itu? ternyata banyak dari mereka yang sudah mengetahuinya. Namun, ada juga yang pengetahuan tentang seksual yang masih kurang.

Langsung saja kita membicarakan para remaja yang sudah tau banyak tentang seksual dan mengapa mereka masih membeli obat di toko obat (tidak di apotek) serta datangnya ke klinik (tidak ke puskesmas dan RSU). Ternyata alasan mereka hanya karena tidak bersahabat. "Beli di toko obat orangnya lebih ramah. Ketika ditanya cara memakai kondom pun mereka mau mengajari. Beda dengan orang di apotek. Baru mau beli saja sudah ketus dan tatapan matanya tidak mengenakkan. Apalagi ketika tanya tentang penggunaannya. Mereka malah tidak menjawab." begitu tuturnya. Karena alasan inilah anak-anak jalanan tidak membeli obat di apotek. Sedang untuk puskesmas dan klinik mereka menuturkan bahwa di klinik privasi sangat terjaga. Tidak banyak orang. Dokternya pun sangat ramah sehingga tidak membuat kita (anak jalanan) ragu mengatakan permasalahan kita. Sedangkan di puskesmas banyak orang. Kita yakin jika seperti itu privasi juga tidak terjaga. Pasti banyak orang yang tau kalau kita punya penyakit seksual. Susternya pun galak dan sangat tidak ramah. Kita mau mengungkapkan pun tidak mau.

Begitulah alasan mereka. See? Mereka banyak tau tentang apa yang sedang mereka alami, tapi mereka tak kunjung pergi ke UPK untuk mengobatinya.

 

Anak-anak jalanan ini usianya masih remaja sehingga tentu saja kita tau bahwa semua remaja ingin dimengerti orang lain. Bukan dilecehkan atau ditatap tidak mengenakkan. Mereka juga akan berbicara (mengungkapkan sesuatu) kepada orang yang mereka percaya saja. Jika tidak dipercaya mereka pun tidak akan mengungkapkannya. Apalagi kalau itu remaja jalanan yang notabene kepercayaan dan persahabatan itu sangatlah penting dalam dunia mereka.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tenaga kesehatan yang ada di Indonesia ini banyak yang tidak ramah melayani masyarakat. Yang ramah rata-rata pelayanan milik swasta saja seperti klinik dan rumah sakit swasta. Padahal masyarakat cenderung memilih UPK milik pemerintah yang cenderung harganya murah karena memang rata-rata masyarakat Indonesia ini ekonominya rendah. Lamanya mereka dilayani tidak mereka pedulikan. Tidak ramahnya petugas kesehatan pun hanya mereka keluhkan. Sudah sebaiknya petugas kesehatan di Indonesia berubah. Tidak hanya menerima gaji besar saja tanpa memedulikan mental para pasien. Sudah seharusnya petugas kesehatan tidak sekadar menerima gaji buta. Sudah seharusnya petugas kesehatan berkata "PASIEN ADALAH KUNCI SUKSESKU" bukan malah merasa dibutuhkan dan menjadi sombong serta agak sarkastis malah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Expired] Voucher Krispy Kreme sampai 26 April 2017