Banyak wanita yang didekatkan dengan hijab alias menutup aurotnya. Banyak pula yang akhirnya memutuskan
untuk berhijab namun masih banyak juga yang tidak. Wanita-wanita itu jika
ditanya “Kapan kamu akan berhijab?” mereka pasti menghindar dari pertanyaan tersebut
dan mengatakan “ah, hatiku yang berhijab” maksudnya mereka memandang bahwa
hijab itu bukanlah suatu hal yang penting. Yang penting hatinya bersih. Yang penting
imannya kuat. Inilah permasalahan sepele yang membuat mereka terlihat sangat
malang di mataku. Kenapa? Karena itu sebuah pernyataan yang salah. Benar-benar
salah
.
Apakah benar hatimu akan bersih jika
tidak berhijab?
Ini fiksimini yang aku kirim buat lomba tapi gak lolos hehe.. jadi ku posting disini. jangan lupa komentar yaa..
Secangkir kopi yang dingin itu belum kusentuh sama sekali.
Dilirik pun tidak. Akhir-akhir ini 5 rekan kerjaku mendadak sakit dan harus
dirawat inap. Jadi hanya 2 orang yang akan menyelesaikan sebuah proyek hotel
senilai 10 milyar ini. Konsentrasiku pun hanya terpusat disana. Tidak ada suatu
hal pun di pikiranku selain menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini sebelum
deadline menghampiri. Aku sangat bersemangat di detik-detk terakhir. Satu
paragraf lagi.
Srek!
Bola mataku bergerak ke sumber suara. Sebuah buku berwarna
biru muda menyembul di balik kertas HVS meminta sedikit perhatian dariku. Membuat
hatiku bergetar. Agenda ini mengingatkanku akan seseorang. Dialah Adit. Orang
pertama yang membuatku nyaman di hari kerja pertamaku. Orang yang membuat deadline
menjadi hal yang menyenangkan. Tempat suka dan dukaku. Dialah orang yang selalu
ada untukku sampai hari itu. Hari dimana ia memberiku kejutan dengan jasad yang
penuh darah, kado dan setangkai mawar di hari ulang tahunku.
Agenda ini adalah kado darinya. Dalam agenda dia mengucapkan
selamat ulang tahun. Dalam agenda dia berpesan. Dan.. di dalam agenda juga ia
mengungkapkan cintanya padaku. Aku harus ikhlas.
Kupajang kembali bingkai foto yang sempat kusembunyikan dari
dunia sejak hari itu.
“Terima kasih Cinta…”
“Aku juga mencintaimu Adit. Semoga kamu tenang disana yaa”
Halo.. Tadi aku mau isya beli kerudung sama manset nih. Besok, tanggal 2 Oktober 2013 ada Hari Batik! Makanya aku repot banget dan bela-belain beli kerudung. Habis bajunya udah ada dari beberapa bulan yang lalu tapi dianggurin karena kagak ada kerudungnya. Yah, jadinya beli sekarang deh kerudungnya berhubung besok hari Batik dan baju yang aku maksud itu baju batik model songket. dan itu terlihat eksotis banget. Jadi yaa wajar kalo aku gak cepet-cepet beliin kerudungnya. harus mikir dulu sih biar kelihatan bener-bener bagus hehe. ya udah deh kalo gitu yaa.. ini kan aku maksudnya curcol. hehe. See you di curhatanku selanjutnya. Jangan lupa besok pakai batik yaa.. Dan jangan malu memakai batik! Batik itu unik, elegant, dan pokoknya kece bin modis deh. Percaya!
Haloo.. Apa Kabar? Semoga selalu sehat dan luar biasa baik yaa. Amiiin. Sekarang aku lagi kuliah blok Reproduksi System nih. Tiap kali kuliah aku sama teman-temanku selalu saja dikagetkan oleh sebuah fakta yang benar-benar kita tidak tahu. Padahal itu sangat penting banget buat kita (kaum hawa) ketahui. Dan sudah seharusnya kita tau hal itu. Dan aku mau share informasi itu ke kamu. Yaa.. kayak yang di judul. Tentang pentingnya mencatat siklus menstruasi.
Well, aku sebenarnya agak memaksa kamu (kaum hawa) yang sudah mengalami menstruasi untuk selalu mencatat siklus mens kamu. Why? Karena dengan begitu kamu akan tau kapan kamu subur dan tidak subur. Dan ini akan sangat penting sekali jika kamu nanti sudah menikah dan berencana untuk memiliki anak. Maka dari itu simak baik-baik penjelasan dariku yaa
~
Remaja yang banyak tau tidak membuat mereka pergi ke UPK ~
Dalam suatu penelitian yang melibatkan 132 (insyaAllah, saya lupa. tapi sekitar 130-an atau 150-an) anak jalanan di Jakarta tentang kesehatan reproduksi didapatkan hasil bahwa mereka semua telah melakukan hubungan seksual layaknya pasangan suami istri dengan frekuensi yang bisa dianggap sering. Mereka juga melakukannya dengan orang yang berbeda sehingga tingkat kejadian penyakit kelamin dan seksual tinggi pada anak-anak jalanan ini. Alasan mereka melakukan hubungan seksual ini berbeda-beda. Ada yang karena faktor ekonomi, stres, dan lain sebagainya.
Mereka mengakui pernah terjadi sakit saat pipis, keluar nanah, dan berbagai gejala penyakit kelamin lainnya. Dan untuk mengobatinya mereka mengaku sering beli obat di warung dan toko obat (BUKAN APOTEK). Dan apabila gejala yang mereka rasakan sudah semakin parah barulah mereka datang ke klinik yang notabene klinik swasta (TIDAK KE PUSKESMAS ATAU RUMAH SAKIT UMUM). Ketika ditanya bahayanya penyakit itu? ternyata banyak dari mereka yang sudah mengetahuinya. Namun, ada juga yang pengetahuan tentang seksual yang masih kurang.
Langsung saja kita membicarakan para remaja yang sudah tau banyak tentang seksual dan mengapa mereka masih membeli obat di toko obat (tidak di apotek) serta datangnya ke klinik (tidak ke puskesmas dan RSU). Ternyata alasan mereka hanya karena tidak bersahabat. "Beli di toko obat orangnya lebih ramah. Ketika ditanya cara memakai kondom pun mereka mau mengajari. Beda dengan orang di apotek. Baru mau beli saja sudah ketus dan tatapan matanya tidak mengenakkan. Apalagi ketika tanya tentang penggunaannya. Mereka malah tidak menjawab." begitu tuturnya. Karena alasan inilah anak-anak jalanan tidak membeli obat di apotek. Sedang untuk puskesmas dan klinik mereka menuturkan bahwa di klinik privasi sangat terjaga. Tidak banyak orang. Dokternya pun sangat ramah sehingga tidak membuat kita (anak jalanan) ragu mengatakan permasalahan kita. Sedangkan di puskesmas banyak orang. Kita yakin jika seperti itu privasi juga tidak terjaga. Pasti banyak orang yang tau kalau kita punya penyakit seksual. Susternya pun galak dan sangat tidak ramah. Kita mau mengungkapkan pun tidak mau.
Begitulah alasan mereka. See? Mereka banyak tau tentang apa yang sedang mereka alami, tapi mereka tak kunjung pergi ke UPK untuk mengobatinya.